Friday, January 27, 2012

Teruskan Beramal Walaupun Sedikit....





Beramal sedikit demi sedikit tetapi terus menerus boleh diibaratkan seperti menanam benih pohon di mana pohon itu adalah jiwa kita sendiri. Kemudian kita meletakkan baja dan menyiraminya dengan air di mana baja dan airnya adalah amal-amal ibadah dan keimanan yang tulus.
 
Melakukan amal ibadah dan amal soleh secara terus menerus, setahap demi setahap, ibarat membangun benteng diri yang kukuh.
 
Ia umpama mengurus batu-bata satu persatu secara terus menerus hingga akhirnya berdirilah sebuah bangunan yang megah. Inilah amal yang dicintai Allah, iaitu melakukan kebaikan dan ibadah tanpa henti meskipun hanya sedikit.
 
Sedikit dalam beramal yang dilakukan terus-menerus juga sama dengan memupuk dan menyiram pohon iman sehingga ia akan tetap tumbuh segar dan tidak layu. Hasilnya, jiwa terus terangkat menuju darjat yang lebih baik serta menjejaki tangga-tangga ke arah kesempurnaan.
 
Para sahabat dahulu merasakan kegelisahan yang amat sangat dalam diri mereka apabila pada diri mereka wujud sikap tidak istiqamah dalam kebaikan.
 
Mereka diterpa rasa bersalah yang sangat besar ketika dalam diri mereka terasa ada keadaan yang menjadikannya tidak melakukan amal baik secara terus menerus.
 
Perhatikanlah bagaimana suasana dan gelombang kegelisahan luar biasa yang menimpa sahabat Rasulullah saw yang bernama Handzalah.
 
Ia merasa tidak mampu untuk berterusan dan menjaga kestabilan ruhaninya ketika tidak bersama Rasulullah saw.
 
Suatu ketika, Handzalah yang juga salah seorang penulis Rasulullah saw itu mendatangi Abu Bakar ra dengan melontarkan perkataan yang mengejutkan.
 
"Handzalah telah berlaku munafiq.. Handzalah telah berlaku munafiq…" katanya.
 
Handzalah mengungkapkan bagaimana perilakunya berubah. Di kala ia bersama Rasulullah saw, ia benar-benar seperti melihat syurga dan neraka di depan mata. Tapi, setelah ia berada jauh dari Rasulullah saw, pulang ke rumah dan bertemu keluarga, keadaan jiwanya pun berubah.
 
Abu Bakar tersentak dan mengatakan :
 
"Demi Allah, ini mesti kita sampaikan kepada Rasulullah saw kerana aku juga mengalami hal yang sama."
 
Akhirnya, mereka berdua pergi mengadap Rasulullah saw dan menceritakan permasalahan tersebut.
 
Rasulullah saw mendengar kegelisahan dua sahabatnya dengan tenang sekali dan setelah selesai mengungkapkan masalah mereka, Rasulullah saw mengatakan :
 
"Demi Allah, seandainya kamu terus menerus dalam keadaan seperti ketika kamu bersamaku dalam ingatan kamu, niscaya malaikat akan menyalami kamu di atas tilam kamu dan ketika kamu sedang berjalan. Akan tetapi wahai Handzalah… sesaat demi sesaat…" (HR Muslim)
 
Pesanan yang dapat kita ambil dari peristiwa yang dialami oleh Handzalah dan Abu Bakar tersebut adalah pentingnya semangat berterusan dalam beramal dengan tetap memelihara kualiti beramal.
 
An Nawas bin Sam'an ra mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah menjelaskan tentang sifat istiqamah ibarat sebuah jalan yang lurus (shiraat).
 
"Allah memberi perumpamaan suatu jalan yang lurus (shiraat), di kanan-kiri jalan ada dinding dan di pagar ada pintu-pintu terbuka. Pada tiap pintu ada tabir yang menutupi pintu, dan di muka jalan ada suara berseru, "Hai manusia masuklah ke jalan ini, dan jangan berbelok dan di atas jalanan ada seruan, maka bila ada orang yang akan membuka pintu diperingatkan, `Celaka kamu, jangan membuka, sungguh jika kamu membuka pasti akan masuk (neraka)'. Shiraat itu ialah Islam, dan pagar itu batas-batas hukum Allah dan pintu yang terbuka ialah yang diharamkan Allah. Sedang seruan di muka jalan itu ialah kitab Allah, dan seruan di atas shirat ialah seruan nasihat dalam hati setiap orang muslim. (HR Ahmad, Tirmizi dan Nasa'ie)
 
Istiqamah tentunya tidak mudah untuk dilakukan. Sesiapapun yang ingin konsisten mencapai sebuah tujuan yang besar, pasti perlu melalui berbagai :
 
  • Penderitaan.
  • Kesulitan.
  • Keadaan yang tidak disukai.
Tanpa istiqamah, tanpa kesinambungan dan tanpa berterusan dalam beramal, matlamat suatu pekerjaan tidak akan berhasil sesuai dengan harapan.
 
Di sinilah kita memerlukan petunjuk untuk menerapkan amal secara bijaksana.
 
Sesungguhnya istiqamah, berterusan dan berkesinambungan dalam suatu amal adalah agak sukar untuk diterapkan kecuali dengan memilih jalan :
 
  • Pertengahan.
  • Tidak berlebihan.
  • Tidak bertentangan dengan kemampuan untuk melakukannya.
Rasulullah saw mengaitkan istiqamah dengan sikap tidak berlebih-lebihan.
 
Perhatikanlah sabda baginda saw yang berbunyi :
 
"Luruskanlah dirimu dan janganlah berlebih-lebihan, ketahuilah bahwa tiada seorangpun yang dapat selamat berdasarkan amalnya semata-mata, para sahabat bertanya, "Walaupun anda sendiri ya, Rasulullah?", beliau menjawab, "Demikian pula saya tidak dapat selamat kecuali bila Allah melimpahkan rahmat dan kurniaNya atas diriku". (HR lbnu Majah)
 
Bersikap lurus dan tidak berlebih-lebihan semuanya adalah selari dan saling memerlukan. Sikap istiqamah tidak akan berlaku bagi seseorang yang melakukan amal secara berlebihan. Di sudut lain, amal yang melewati keupayaan seseorang, pasti akan mematahkan amal.
 
Yang dituntut dari kita adalah, jika tidak mampu melakukan secara istiqamah, hendaknya mendekatinya, oleh kerana itu, segala amal mesti dilakukan secara sederhana dan pertengahan.
 
Rasulullah saw bersabda :
 
"Ikutilah petunjuk yang sederhana (tengah-tengah) kerana orang yang kaku dan keras menjalankan agama ini akan dikalahkan olehnya." (HR Ahmad, Hakim dan Baihaqi)
 
Sungguh bijaksana sekali nasihat yang keluar dari lisan Rasulullah saw :
 
"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus walaupun hanya sedikit". (HR Bukhari dan Muslim)
 
Tidak ada kebahagiaan yang diperolehi secara mudah.

Bahkan tingkatan kesulitan dan kemudahan sesuatu proses untuk mencapai kebahagiaan akan menjadi bahagian yang penting bagi menentukan kadar kebahagiaan yang akan kita perolehi.
 
Ingatlah, semua manfaat tidak akan datang kecuali dengan rasa penat lelah. Kenikmatan itu bahkan datang sesuai dengan kadar kepenatan dan keletihan untuk memperolehinya.
 
Oleh sebab itu, kebahagiaan di akhirat mesti ditempuh dengan :
 
  • Keletihan dalam beramal.
  • Kesulitan untuk meraihnya.
Allah swt menyebutkan bahwa untuk masuk syurga sekalipun, orang-orang yang beriman mesti melalui proses ujian dan penyaringan seperti yang dijelaskan oleh Allah swt :
 
"Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (sahaja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka belum diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS Al Ankabut 1- 3)
 
Berterusan dalam beramal memang sesuatu yang sukar di mana ia memerlukan :
 
  • Pengorbanan.
  • Kekuatan mujahadah (kesungguhan) melawan keinginan yang boleh mematahkan semangat penerusan amal.
  • Kepasrahan dan ketundukan penuh kepada Allah swt untuk meraih tenaga yang mampu mengalahkan rasa sombong dan ujub.
  • Kesabaran berlipat kali ganda untuk mampu bertahan menjalani berbagai halangan dan rintangan yang pasti dijumpai dalam memelihara penerusan amal.
Namun, itulah harga yang mesti dibayar untuk kenikmatan syurga di akhirat. Bahkan bukan hanya di akhirat, sesungguhnya buah penerusan amal itu, meskipun sedikit, sudah boleh dipetik sejak di dunia lagi.
 
Ada beberapa sebab mengapa amal yang sedikit tapi berterusan jauh lebih baik daripada amal besar yang tidak berkesinambungan.
 
PERTAMA :  BERTERUSAN WALAU SEDIKIT ADALAH TANDA KEIKHLASAN.
 
Ibadah yang dilakukan yang hanya bersifat sementara, mengikut kesesuaian waktu, tidak berterusan dan sesuai dengan keadaan semata-mata adalah tanda keikhlasan yang belum sempurna. Ini adalah kerana secara umumnya, aktiviti ibadah yang dilakukan tidak secara terus menerus lebih dimotivasi oleh keadaan lahiriah dan urusan duniawi.
 
Pendekatan diri kepada Allah hanya dilakukan ketika ia :
 
  • Sedang memerlukanNya.
  • Sedang mengalami kesulitan.
  • Tertimpa musibah.
  • Diuji dengan kesempitan dan kesusahan.
  • Meminta agar Allah menolong dan membantunya meringankan penderitaan.
Namun, ketika semua kesulitan dan penderitaan itu telah hilang, ia pun meninggalkan amal-amal ibadah yang sebelumnya dilakukannya.
 
Perhatikan firman Allah swt berikut :
 
"Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (dihilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan." (QS Yunus : 12)
 
Berbeza dengan hamba Allah yang ikhlas, yang tetap istiqamah melakukan ibadah dan amal soleh. Ketika diuji dengan kesulitan, ia duduk bersimpuh dan sujud memohon pertolongan Allah dan ketika diberi kelapangan, ia akan semakin banyak bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah yang melapangkan kehidupannya.
 
KEDUA : BERTERUSAN WALAU SEDIKIT ADALAH MATA AIR DAMAI DAN NYAMAN.
 
Setiap kita memerlukan rasa :
 
  • Nyaman.
  • Damai.
  • Tenang.
Itulah di antara buah istiqamah dalam kebaikan yang dilakukan. Amal soleh, apalagi yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit akan menciptakan suasana damai dan tenang di dalam hati.
 
Kesinambungan ibadah dalam berbagai bentuknya akan membina jiwa seseorang menjadi lebih dekat dengan Allah swt. Penerusan dalam melakukan ibadah itulah yang membentuk jiwa menjadi seperti itu.
 
Kebahagiaan dan kelazatan dalam hati orang-orang yang dekat dengan Allah tidak mampu dirasakan kecuali oleh mereka yang merasakan kebahagiaan itu.
 
Lihatlah perkataan para salafussoleh :
 
"Kasihan sekali orang-orang yang lalai itu. Mereka keluar dari dunia tapi mereka belum merasakan puncak manisnya dunia."
 
Puncak kemanisan dunia bagi mereka ada pada kedamaian dan kenikmatan hidup bersama Allah swt.
 
Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya `Ighatsatul Lahfan' :
 
"Andainya para raja dan para pembesar itu mengetahui kenikmatan apa yang dirasakan oleh para ahli taqwa, niscaya mereka akan berusaha merebut kenikmatan itu dengan pedang terhunus."
 
Ibnu Taimiyah ketika di dalam penjara justeru merasakan kenikmatan ujian itu. Dalam sepucuk surat kepada murid-muridnya ia menulis :
 
"Kami Alhamdulillah dan syukur pada Allah, berada dalam kenikmatan agung yang setiap hari terus bertambah. Allah memperbaharui nikmatNya demi nikmatnya yang lain. Saya dalam keadaan baik. Kedua mata saya bahkan lebih baik dari sebelumnya. Kami berada dalam nikmat yang sangat besar, yang tidak mampu dihitung dan dihisab."
 
KETIGA : BERTERUSAN WALAU SEDIKIT ADALAH STRATEGI.
 
Perbuatan manusia itu memiliki beberapa tingkatan. Ada perbuatan yang paling mulia dan dicintai oleh Allah swt berbanding perbuatan lainnya.
 
Allah swt berfirman :
 
"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid Al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi darjatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS At-Taubah : 19-20)
 
Dalam hadits shahih disebutkan bahwa :
 
"Iman itu memiliki enam puluh lebih cabang (atau tujuh puluh lebih) yang paling tinggi adalah Laa ilaaha illa Allah dan yang paling rendah ialah menyingkirkan penghalang yang ada di jalan."
 
Hal ini menunjukkan bahwa tingkatan iman itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya.
 
Amir As Sya'bi, seorang tabiin menceritakan bahwa suatu ketika beberapa orang keluar dari Kufah dan menyendiri untuk melakukan ibadah.
 
Kemudian Abdullah bin Mas'ud diberitahu tentang keadaan mereka. Ibnu Mas'ud mendatangi mereka dan mereka sangat gembira dengan kedatangan Ibnu Mas'ud.
 
Ibnu Mas'ud bertanya : "Apa yang membuat kamu melakukan perkara ini?"
 
Mereka mengatakan : "Kami ingin keluar dari keramaian manusia dan melakukan ibadah."
 
Ibnu Mas'ud berkata : "Kalau seandainya manusia melakukan semuanya seperti apa yang kamu lakukan, siapa yang akan berperang melawan musuh?"
 
Menurut Ibnul Qayyim, orang yang dikatakan sangat pemberani adalah :
 
  • Orang yang langsung berhadapan dengan musuh dengan senjatanya. Posisinya di barisan pejuang dan jihadnya melawan musuh-musuh Allah itu lebih baik dari haji, puasa dan sedekah.
  • Orang yang mengetahui sunnah, hukum halal haram, jalan kebaikan dan keburukan, kemudian ia tetap bergaul dengan manusia mengajarkan mereka dan menasihati mereka tentang Islam itu lebih baik daripada ia menyendiri melakukan solat dan menghabiskan waktu untuk membaca Al Qur'an dan tasbih.
KEEMPAT : BERTERUSAN WALAU SEDIKIT ADALAH BAHAN BAKAR UTAMA.
 
Mengikut Ibnul Qayyim, orang yang ingin mencari ridha Allah dan memperolehi kebahagiaan akhirat dan bahkan setiap orang yang ingin mencapai matlamatnya tidak akan tercapai kepada tujuannya kecuali dengan dua kekuatan :
 
  • Kekuatan ilmu.
  • Kekuatan amal.
Kekuatan ilmu akan menerangkan jalan dan meletakkan pelakunya agar sampai pada tujuannya, terhindar dari bahaya dan tempat-tempat yang terlarang atau menjadikannya tersesat.
 
Kekuatan amal adalah kekuatan untuk istiqamah dan tetap berusaha meneruskan perjalanan. Usaha untuk dapat bertahan dan istiqamah meneruskan perjalanan adalah dengan mengetahui dan memanfaatkan kemudahan yang diberikan Allah dalam beribadah.
 
Maka, kita mesti berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan amal perbuatan setiap saat serta mempunyai komitmen yang tinggi pada jalan kebaikan.
 
Sikap berlebihan dan pemaksaan diri dalam melakukan amal, tidak jarang dapat mengeluarkan seseorang dari jalur yang benar akibat diterpa oleh kejenuhan dan rasa bosan.
 
Mari kita dengar sebuah cerita dari Buraidah yang suatu ketika pergi keluar rumah untuk sebuah keperluan. Kebetulan ketika itu ia bertemu dengan Rasulullah saw dan berjalan bersamanya.
 
"Dia memegang tangan saya, dan kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan kami ada seorang lelaki yang memperpanjangkan ruku' dan sujudnya.
 
Nabi saw bertanya :
 
"Apakah kamu melihat bahwa orang itu melakukan riya'?"
 
Aku berkata : “Allah dan RasulNya yang lebih tahu."
 
Kemudian beliau melepaskan tanganku, dan membetulkan kedua tangan orang itu dan mengangkatnya sambil bersabda :
 
"Ikutilah petunjuk yang pertengahan. " (Disebutkan oleh al-Haitsami dan Ahmad dalam Majma'Az Zawaaid)
 
Sesungguhnya, amal yang berterusan pasti berat dilakukan, namun, itu biasanya berlaku hanya pada awalnya sahaja. Ibarat memutar sebuah roda. Terasa berat hanya pada awal putaran tetapi pada putaran kedua, ketiga dan seterusnya, roda itu akan lebih mudah diputar.
 
Demikianlah juga dengan keadaan jiwa manusia. Maka marilah kita penuhi usia yang masih tersisa ini dan yang terpenting dalam hidup ini adalah terus menerus melakukan amal hingga ajal menjemput.
 
Ya Allah, berilah kekuatan kepada kami supaya kami dapat melakukan sesuatu amal dengan berterusan dan hanya mengharapkan wajahMu. Hadirkanlah rasa nikmat di dalam hati kami semasa kami melaksanakannya sehingga kami akan terus menggandakan usaha sehingga tercapai cita-cita dan matlamat kami iaitu samada mendapat pertolongan dan kemenangan yang dekat dariMu atau mati syahid menuju ke syurgaMu yang dirindui.
 
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
 
http://tinta-perjalananku.blogspot.com/

Thursday, January 26, 2012

Forgive...


Assalaamu alaikum [Peace be to you],

Forgiveness is not for the weak. Being able to forgive those who have wronged you is a mark of spiritual strength and confidence. When you forgive, you grow. When you forgive you live.
I'd like to give you an example of great forgiveness from the life of the last prophet of Islam, Mohammed -peace be upon him-:

Characters of this story:
  • Mohammed -peace be upon him-, the last prophet of the God.
  • Hamzah, one of the uncles of the prophet. he was a strong and brave man.
  • Abu-Sufyan, one of the pagan leaders of Mekkah, he was one of the greatest enemies of Islam.
  • Hind, the wife of Abu-Sufyan. she hated Islam more than her husband did.

  
A geat quality of the prophet Mohammed -peace be upon him- is that he never took revenge on his own behalf on anyone. he only fought the transgressors as long as they transgress. as his wife Aishah said. "He never return evil for evil, but always forgive and pardon."

In the early years of the restoration of Islam by Mohammed -peace be upon him- the last prophet of the God, the Muslims suffered violent and barbaric persecution from the Mekkan pagans. they were humiliated, beaten, tortured, starved, and some were killed...

Hamzah -may Allah be pleased with him-, the uncle of the prophet, was one of the most beloved of people to the Prophet. he was one of the earliest to accept Islam and, through his power and position in the Quraishite hierarchy, diverted much harm from the Muslims.

After many years of suffering and persecution, the God almighty gave his command to the prophet to emigrate to another town called Madinah (around 200 miles from Mekkah) the pagans plundered the properties of the Muslims and stole everything they left in Mekkah.

The Muslims started to prosper in Madinah, but it was not for so long. as the pagans, seeing more and more people embracing this new religion, wanted to stop Mohammed and the Muslims by eliminating them at once. they went to wage war against the Muslims. and there were many battles between them. in one of them called the Battle of Uhud, Hamzah was killed by an Abyssinian slave commanded by Hind, The wife of Abu-Sufyan. then she mutilated his body by cutting his chest and tearing his heart into pieces and eating his liver (she spit it out as it tasted unpleasant to her).

This attitude of Hind affected the prophet of the God too much and left him distressed and angry towards Hind!

Hind had a very fierce long bad history with the Muslims. but after long years, the Muslims became stronger than the pagans, and they went to take back Mekkah. the Muslims army was of 10,000. Abu-Sufyan knew that if the pagans were to fight the Muslims, they would be crushed. He went to meet the prophet before they reach Mekkah and converted to Islam (maybe to save his life). Hind refused her husband's behavior and called him a coward. she didn't want the Muslims to enter Mekkah.

At long last, the Muslims came. it's interesting to notice that it was announced that whoever stays behind his door will be safe, whoever doesn't fight the Muslims will be safe and whoever stays in Abu-Sufyan's house will be safe.

The Prophet said to the non believers:

“O people of Quraish*! What do you think I will do to you?"
Hoping for a good response, they said: “You will do good. You are a noble brother, son of a noble brother.”
The Prophet then said:
“Then I say to you what Joseph** said to his brothers: ‘There is no blame upon you.’ Go! For you are all free!.”

The prophet pardoned the people of Mekkah and that was the greatest conquest in the world without any bloodshed. People of Mekkah went to pay homage to the prophet and to Islam. Hind also went while completely veiled and not identified.

When she quietly came to the Prophet with other women to pay homage, he recognized her. He asked "is it you Hind bint 'Utbah?!" 

She replied: "yes, it is me, Hind. forgive me! May Allah forgive you!"

Indeed, it was a crucial moment in the life of Hind. What is your opinion? What is the prophet going to act? Bearing in mind her long history confronting Muslims and mutilation of his uncle Hamzah?!

What the prophet did was not to say anything. He forgave her and didn't seek revenge for all what she did. She was so impressed by his magnanimity and stature that she said, 

“O Messenger of God, no tent was more deserted in my eyes than yours; but today no tent is more lovely in my eyes than yours.”

The Prophet, -may the mercy and blessings of God be upon him-, was all for forgiveness and no amount of crime or aggression against him was too great to be forgiven by him. He was the complete example of forgiveness and kindness. He always repelled evil with the good of forgiveness and kind behavior for, in his view, an antidote was better than poison. He believed and practiced the precept that love could foil hatred, and aggression could be won over by forgiveness. He overcame the ignorance of the people with the knowledge of Islam, and the folly and evil of the people with his kind and forgiving treatment.

Wednesday, January 4, 2012

Kisah Rasulullah di Thaif

Abu Nu’aim memberitakan dengan lebih lengkapl dari Urwah bin Az-Zubair ra. katanya: Apabila Abu Thalib meninggal, maka semakin bertambahlah penyiksaan kaum Quraisy ke atas Nabi SAW Maka beliau berangkat ke Tha’if untuk menemui suku kaum Tsaqif dengan harapan penuh, bahwa mereka akan dapat melindunginya dan mempertahankannya. Beliau menemui tiga orang dari pemuka suku kaum Tsaqif, dan mereka itu pula adalah bersaudara, yaitu: Abdi Yalel, Kbubaib dan Mas’ud, semua mereka putera-putera dari Amru, lalu beliau menawarkan dirinya untuk diberikan perlindungan, di samping beliau mengadukan perbuatan jahat kaum Quraisy terhadap dirinya, dan apa yang ditimpakan ke atas pengikut-pengikutnya. Maka berkata salah seorang dari mereka: Aku hendak mencuri kelambu Ka’bah, jika memang benar Allah mengutusmu sesuatu seperti yang engkau katakan tadi?! Yang lain pula berkata: Demi Allah, aku tidak dapat berkatakata kepadamu, walau satu kalimah sesudah pertemuan ini, sebab jika engkau benar seorang Utusan Allah, niscaya engkau menjadi orang yang tinggi kedudukannya dan besar pangkatnya, tentu tidak boleh aku berbicara lagi kepadamu?! Dan yang terakhir pula berkata: Apakah Allah sampai begitu lemah untuk mengutus orang selain engkau? Semua kata-kata pemuka Tsaqif kepada RasuluUah SAW itu tersebar dengan cepat sekali kepada suku kaumnya, lalu mereka pun berkumpul mengejek-ngejek beliau dengan kata-kata itu.

Kemudian ketika beliau hendak pergi meninggalkan Tha’if itu, mereka berbaris di tengah jalannya dua barisan, mereka mengambil batu, lalu melempar beliau, setiap beliau melangkahkan kakinya batu-batu itu mengenai semua tubuh beliau sehingga luka-luka berdarah, dan sambil mereka melempar, mereka mengejek dan mencaci. Setelah bebas dari perbuatan suku kaum Tsaqif itu, beliau terlihat sebuah perkebunan anggur yang subur di situ. Beliau berhenti di salah satu pepohonannya untuk beristirahat dan membersihkan darah yang mengalir dari kaki dan tubuhnya yang lain, sedang hatinya sungguh pilu dan menyesal atas perlakuan kaum Tha’if itu.

Bukhari meriwayatkan dari Urwah, bahwa Aisyah ra. isteri Nabi SAW bertanya kepada Nabi SAW katanya: ‘Adakah hari lain yang engkau rasakan lebih berat dari hari di perang Uhud?’ tanya Aisyah ra.

‘Ya, memang banyak perkara berat yang aku tanggung dari kaummu itu, dan yang paling berat ialah apa yang aku temui di hari Aqabah dulu itu. Aku meminta perlindungan diriku kepada putera Abdi Yalel bin Abdi Kilai, tetapi malangnya dia tidak merestui permohonanku! ‘Aku pun pergi dari situ, sedang hatiku sangat sedih, dan mukaku muram sekali, aku terus berjalan dan berjalan, dan aku tidak sadar melainkan sesudah aku sampai di Qarnis-Tsa’alib. Aku pun mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku terlihat sekumpulan awan yang telah meneduhkanku, aku lihat lagi, maka aku lihat Malaikat jibril alaihis-salam berada di situ, dia menyeruku: ‘Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu tadi, dan apa yang dijawabnya pula. Sekarang Allah telah mengutus kepadamu bersamaku Malaikat yang bertugas menjaga bukit-bukit ini, maka perintahkanlah dia apa yang engkau hendak dan jika engkau ingin dia menghimpitkan kedua-dua bukit Abu Qubais dan Ahmar ini ke atas mereka, niscaya dia akan melakukannya!‘ Dan bersamaan itu pula Malaikat penjaga bukit-bukit itu menyeru namaku, lalu memberi salam kepadaku, katanya: ‘Hai Muhammad!’ Malaikat itu lalu mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril AS tadi. ‘Berilah aku perintahmu, jika engkau hendak aku menghimpitkan kedua bukit ini pun niscaya “aku akan lakukan!’ ‘Jangan… jangan! Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun… !’, demikian jawab Nabi SAW

Semasa Baginda berlindung di sebuah kebun, Baginda berdoa kepada Allah

“Ya Allah aku mengadu kepada-Mu, kelemahan kekuatanku, sedikitnya kemampunaku dan hinanya aku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, Kamulah Tuhan golongan yg lemah dan Kamu juga Tuahnku. Kepada siapa Kamu serahkan aku? Kepada orang yg jauh yg memandangku dengan wajah bengis atau kepada musuh yg menguasai urusanku? Sekiranyan Kamu tidak murka kepadakau, aku tidak peduli (apa yang menimpa). Namun keselamatan daripada-Mu lebih melapangkan aku. Aku berlindung denga cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan serta memperelokkan urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung daripada kemarahan-Mu atau kemurkaanMu terkena kepadaku. Tiada kuasa dan tiada kekuatan melainkan dengan-Mu”

Tidak lama kemudian terlihatlah Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah yang baru sampai di situ. Beliau enggan datang menemui mereka, disebabkan permusuhan mereka terhadap Allah dan RasulNya dan penentangan mereka terhadap agama yang diutus Allah kepadanya. Tetapi Utbah dan Syaibah telah menyuruh hamba mereka yang bemama Addas untuk datang kepada beliau membawa sedikit anggur untuknya, dan Addas ini adalah seorang yang beragama kristen dari negeri Niniva (kota lama dari Iraq). Apabila Addas datang membawa sedikit anggur untuk beliau, maka beliau pun memakannya, dan sebelum itu membaca ‘Bismillah!’ Mendengar itu Addas keheranan, kerana tidak pernah mendengar orang membaca seperti itu sebelumnya.

‘Siapa namamu?’ tanya Nabi SAW ‘Addas!’ ‘Dari mana engkau?’ tanya beliau lagi. ‘Dari negeri Niniva!’ jawab Addas. ‘Oh, dari kota Nabi yang saleh, Yunus bin Matta!’ Mendengar jawaban Nabi itu, Addas menjadi lebih heran dari mana orang ini tahu tentang Nabi Yunus bin Matta? Dia tidak sabar lagi hendak tahu, sementara tuannya Utbah dan Syaibah melihat saja kelakuan hambanya yang terlihat begitu mesra dengan Nabi SAW itu. ‘Dari mana engkau tahu tentang Yunus bin Matta?!’ Addas keheranan. ‘Dia seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama kepada kaumnya,’ jawab beliau. Beliau lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Nabi Yunus AS itu, dan sudah menjadi tabiat beliau, beliau tidak pernah memperkecilkan siapa pun yang diutus Allah untuk membawa perutusannya. Mendengar semua keterangan dari Rasulullah SAW Addas semakin kuat mempercayai bahwa orang yang berkata-kata dengannya ini adalah seorang Nabi yang diutus Allah. Lalu dia pun menundukkan kepalanya kepada beliau sambil mencium kedua tapak kaki beliau yang penuh dengan darah itu.

Melihat kelakuan Addas yang terakhir ini, Utbah dan Syaibah semakin heran apa yang dibuat sang hamba itu. Apabila kembali Addas kepada mereka, mereka lalu bertanya: ‘Addas! Mari ke mari!’ panggil mereka. Addas datang kepada tuannya menunggu jika ada perintah yang akan disuruhnya. ‘Apa yang engkau lakukan kepada orang itu tadi?’ ‘Tidak ada apa-apa!’ jawab Addas. ‘Kami lihat engkau menundukkan kepalamu kepadanya, lalu engkau menciurn kedua belah kakinya, padahal kami belum pemah melihatmu berbuat seperti itu kepada orang lain?!’ Addas mendiamkan diri saja, tidak menjawab. ‘Kenapa diam? Coba beritahu kami, kami ingin tahu?’ pinta Utbah dan Syaibah. ‘Orang itu adalah orang yang baik, dia menceritakan kepadaku tentang seorang Utusan Allah atau Nabi yang diutus kepada kaum kami, ‘jawab Addas. ‘Siapa namanya Nabi itu?’ ‘Yunus bin Matta’ jawab Addas lagi. ‘Lalu?’ ‘Dia katakan, dia juga Nabi yang diutus!’Addas berkata jujur. ‘Dia Nabi?!’ Utbah dan Syaibah tertawa terbahak-bahak, sedang Addas mendiamkan diri melihatkan sikap orang yang mengingkari kebenaran Allah. ‘Eh, engkau bukankah kristen?’ ‘Benar,’jawab Addas. ‘Tetaplah saja dalam kristenmu itu! Jangan tertipu oleh perkataan orang itu!’ Utbah dan Syaibah mengingatkan Addas. ‘Dia itu seorang penipu, tahu tidak?!’ Addas terus mendiamkan dirinya . Sesudah itu, Rasuluilah SAW kembali ke Makkah dengan hati yang kecewa sekali.

(Dala’ilun-Nubuwah, hal. 103)

Pemergian Rasul ke Thaif setelah penduduk Mekah menolak dakwahnya merupakan bukti kepada tekad yang kental dalam jiwa Rasul untuk meneruskan dakwahnya. Ia juga merupakan bukti sikap tidak putus asa Nabi saw terhadap penerimaan orang ramai terhadap dakwahnya. Baginda mencari medan baru untuk dakwah setelah terdapat halangan-halangan yang menyekat dakwah di medan pertamanya (Kota Mekah). Sementara hasutan Bani Thaqif kepada kanak-kanak dan golongan bodoh menhadu bukti bahawa kejahatan sama sahaja walau dimana ia berada. Kejahatan bergantung harap kepada golongan bodoh untuk menyakiti para pendakwah. Peristiwa kaki Nabi saw luka mengalirkan darah padahal Baginda adalah Nabi yg mulia, menjadi contoh penting kesakitan dan penindasan yang akan ditanggung oleh pendakwah di jalan Allah. Manakala doa abadi Nabi saw semasa berada di kebun manjadi penegasan kepada kejujuran Rasul dalam dakwah dan keazamannya utnuk terus melaksanakan tugas dakwah dan keazamannya untuk terus melaksanakan tugas dakwah meskipun berhadapan dengan pelbagai kesulitan. Perkara yang penting bagi Baginda hanyalah redha Allah semata-mata. Baginda tidak menghiraukan redha para pembesar, pemimpin, orang awam dan kebanyakkan.

Dalam doa Baginda terkandung cara-cara memperolehi bekalan kekuatan daripada Allah. Iaitu dengan cara kembali dan meminta pertolongan-Nya ketika kesengsaraan yang dipikul pendakwah semakin berat. Doa ini juga menunjukkan perkara yang paling ditakuti oleh pendakwah ialah kemurkaan dan kemarahan Allah ke atas beliau. Bukannya kemurkaan makhluk selain-Nya....

Wallahualam

Monday, January 2, 2012

Sekilas Himpunan 1000 Jiwa 1 Hati


Alhamdulillah.. Syukur ke hadrat Allah kerana diberi kesempatan dan kelapangan buat kami untuk menyertai program Himpunan 1000 Jiwa 1 Hati pada 31 Disember 2011 hingga 1 Januari 2012 yang bertemakan Jiwa Cerdas Pemuda Cergas bertempat di Masjid Negara dan Taman Tasik Perdana. Amat bermakna dan berharga pengalaman berada bersama lebih 1000 peserta dalam menjayakan program ini. 


Program ini diadakan setiap tahun yang bertujuan untuk mengumpul seribu jiwa-jiwa remaja dan belia dalam memberikan alternatif lain untuk menyambut malam tahun baru. Himpunan 1000 jiwa ini adalah salah satu program Anda Bijak Jauhi Zina (ABJZ) yang dikendalikan sepenuhnya oleh Raudhatus Sakinah untuk membendung gejala 'hendonism' dikalangan remaja dan belia di negara ini di samping untuk mengawal peningkatan kes buang anak dan zina di Malaysia.


Antara acara yang berlansung sepanjang program Himpunan 1000 Jiwa 1 Hati...


Sabtu (31/12/2011)
12.00 - 4.00 ptg
-pendaftaran peserta 
4.00-5.00 ptg
-solat asar berjemaah di Masjid Negara dan minum petang


5.00-6.30 ptg
-perasmian program Himpunan 1000 Jiwa 1 Hati oleh pengerusi JAKIM


7.00-9.00mlm
-Solat maghrib dan Isya' berjemaah
-Tazkirah maghrib disampaikan oleh Imam Masjid Negara
-Menekankan cara sambutan tahun baru yang lebih bermakna dan betul dalam islam


9.00-12.30 mlm
-acara kemuncak Himpunan 1000 Jiwa 1 Hati

  • dimulakan dengan alunan asmaulhusna oleh Ibu Aisyah
  • program ini dihoskan oleh Saudara Fedtri Yahya, pengacara Malaysia Hari Ini TV3
 
saudara fedtri yahya
  Program diteruskan dengan Talk Show dan menampilkan Ibu Aisyah dan Juara Ustazah Pilihan, Ustazah Firuz. Program ini dikendalikan oleh saudara fedtri yahya. Ianya membincangkan tentang gejala bahana cinta remaja dan juga membangkitkan isu-isu mengapa terjadinya peningkatan masalah sosial yang semakin meningkat dikalangan remaja. Selain itu, mereka juga memberikan perkongsian cara-cara berdakwah kepada golongan remaja dan belia masa kini dengan cara menggunakan media electronic seperti facebook, twitter, youtube dan sebagainya...


talk show bersama Ibu Aisyah dan Ustazah Firuz


    Acara diteruskan lagi dengan alunan nasyid pembakar semangat oleh kumpulan nasyid Indonesia Shoutul Harokah.. Kumpulan ini mendendangkan hampir 10 buah nasyid dengan penuh semangat untuk membakar jiwa-jiwa pemuda supaya terus berjuang dalam menegakkan syiar Islam..


kumpulan nasyid Shoutul Harokah


   Selepas itu, pihak penganjur menampilkan Ustaz Dr Hj Zahazan untuk memberikan ceramah yang bertajuk "Wahai Pemuda, Bangkitlah". Dalam ceramah ini, beliau menerangkan kepentingan pemuda-pemuda dalam membangkitkan dan menegakkan syiar Islam di Malaysia. "Belia masa kini adalah penentu masyarakat pada masa hadapan" kata beliau... Banyak perkongsian pengalaman yang beliau lontarkan sepanjang ceramah dan ianya memberi kesan yang amat mendalam buat peserta program..


Ustaz Dr Hj Zahazan


   Program diteruskan lagi dengan laungan ikrar yang diketuai oleh Pengarah Program Saudara Abdullah Omar dan para fasillitator dan tidak dilupa para peserta program Himpunan 1000 Jiwa 1 Hati pada detik jam 12 tengah malam menandakan permulaan tahun baru 2012... Penuh semangat dan mengegarkan hati sanubari dalam menlaungkan ikrar tersebut.. Moga ia menjadi pemangkin pertama dalam memberi perubahan buat semua peserta dalam merubah diri menjadi insan yang lebih baik...


   Acara diteruskan lagi dengan alunan selawat dan salam buat junjungan besar Rasulullah SAW yang diketui oleh Ustaz Imam Muda Najdi bersama-sama dengan para fasilitator lelaki.. 


imam muda najdi
Ahad (1/1/2012)
4.30-5.45 pagi
-Qiammulail yang diketuai oleh Ustaz Imam Muda Hassan..
-Bertujuan untuk membersihkan diri di samping memulakan hari pertama tahun baru dengan lebih bermakna iaitu mengingati Allah dan bersyukur kerana masih diberi nikmat menghadapi pertambahan lagi satu tahun.
-Syahdu dan sebak apabila mendengarkan bacaan alunan ayat suci al-quran dan zikir-zikir sepanjang bermunajat 2/3 malam..


6.00-7.00 pagi
-Solat subuh berjemaah
-Kuliah subuh oleh Imam Muda Hassan


8.00-10.00
- Larian Sihat cergas 1000 pemuda peserta Himpunan 1000 Jiwa 1 Hati di Taman Botani Tasik Perdana...
-Bertujuan melahirkan pemuda-pemuda yang kuat dan bersemangat dalam berjihad menghadapi pelbagai rintangan atau cabaran pada masa hadapan di samping membina stamina pemuda supaya kekal cergas.
-Subhanallah, semua peserta amat bersemangat berlari sambil mengibarkan bendera ABJZ walaupun penat berprogram sepanjang hari dan bangun berqiamulail pada malam hari...


wajah2 ceria...
10.00-11.00
-Acara penutup program Himpunan 1000 Jiwa 1 Hati yang dirasmikan oleh Pengarah DBKL di Panggung Annivesari di Taman Botani Tasik Perdana...
-Kata-kata Aluan daripada Pengerusi Raudhatus Sakinan, Pn Rosmawati Zainal (Ummi Rose) amat menyentuh hati dan beliau mengharapkan pada program himpunan 1000 jiwa tahun hadapan akan ada lebih ramai penambahan peserta kerana ianya menunjukkan betapa perlunya program seperti ini buat golongan remaja dan belia masa kini dalam mengekang penularan gejala maksiat yang semakin membimbangkan...


Refleksi Diri
Alhamdulillah, terlalu banyak yang kami pelajari daripada program ini.. Betapa perlunya program seperti ini dianjurkan sebagai salah satu program alternatif bagi menggantikan program sambutan tahun baru yang melalaikan dan merosakkan jiwa remaja dan belia pada masa kini.. Diharapkan program ini akan diteruskan dan dapat menambat lebih banyak jiwa-jiwa muda untuk meneruskan mempertahankan syiar Islam.. Diharapkan lebih banyak penyertaan penglibatan daripada ikhwah dan akhawat K-PPUKM dalam acara seperti ini pada masa akan datang...

Wallahualam....

antara akhawat kppukm yang terlibat
p/s: asif, hanya gambar akhawat sahaja terdapat dalam simpanan saya... 

Thursday, December 29, 2011

The Four Wives

 

There was a rich merchant who had 4 wives. He loved the 4th wife the most and adorned her with rich robes and treated her to delicacies. He took great care of her and gave her nothing but the best.

He also loved the 3rd wife very much. He's very proud of her and always wanted to show off her to his friends. However, the merchant is always in great fear that she might run away with some other men.

He too, loved his 2nd wife. She is a very considerate person, always patient and in fact is the merchant's confidante. Whenever the merchant faced some problems, he always turned to his 2nd wife and she would always help him out and tide him through difficult times.

Now, the merchant's 1st wife is a very loyal partner and has made great contributions in maintaining his wealth and business as well as taking care of the household. However, the merchant did not love the first wife and although she loved him deeply, he hardly took notice of her.

One day, the merchant fell ill. Before long, he knew that he was going to die soon. He thought of his luxurious life and told himself, "Now I have 4 wives with me. But when I die, I'll be alone. How lonely I'll be!"

Thus, he asked the 4th wife, "I loved you most, endowed you with the finest clothing and showered great care over you. Now that I'm dying, will you follow me and keep me company?" "No way!" replied the 4th wife and she walked away without another word.

The answer cut like a sharp knife right into the merchant's heart. The sad merchant then asked the 3rd wife, "I have loved you so much for all my life. Now that I'm dying, will you follow me and keep me company?" "No!" replied the 3rd wife. "Life is so good over here! I'm going to remarry when you die!" The merchant's heart sank and turned cold.

He then asked the 2nd wife, "I always turned to you for help and you've always helped me out. Now I need your help again. When I die, will you follow me and keep me company?" "I'm sorry, I can't help you out this time!" replied the 2nd wife. "At the very most, I can only send you to your grave." The answer came like a bolt of thunder and the merchant was devastated.

Then a voice called out : "I'll leave with you. I'll follow you no matter where you go." The merchant looked up and there was his first wife. She was so skinny, almost like she suffered from malnutrition. Greatly grieved, the merchant said, "I should have taken much better care of you while I could have !"

Actually, we all have 4 wives in our lives

  1. The 4th wife is our body. No matter how much time and effort we lavish in making it look good, it'll leave us when we die.
  2. Our 3rd wife ? Our possessions, status and wealth. When we die, they all go to others.
  3. The 2nd wife is our family and friends. No matter how close they had been there for us when we're alive, the furthest they can stay by us is up to the grave.
  4. The 1st wife is in fact our soul, often neglected in our pursuit of material, wealth and sensual pleasure.


Guess what? It is actually the only thing that follows us wherever we go. Perhaps it's a good idea to cultivate and strengthen it now rather than to wait until we're on our deathbed to lament. 

Thursday, December 15, 2011

Menghidupkan Ruh Solat

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Solat merupakan tali pengikat ruhani yang sangat kuat antara seorang hamba dengan Penciptanya. Hubungan yang melambangkan ketundukan seorang hamba di hadapan Tuhannya dan keagungan Al Khaliq di hadapan hambaNya.

Solat dengan begitu jelas menggambarkan kekerdilan seorang hamba dan kebesaran Allah swt di mana ianya adalah wasilah munajat mendekatkan diri kepada Allah swt.

Solat adalah tangga ruh dan kalbu orang-orang yang merindui Allah di mana dengan solatlah :
  1. Mereka menghiasi malam di mihrab-mihrab mahabbah dan zhauq sambil menikmati nikmat dari Tuhannya yang sedang membuka tirai-tirai langit bagi orang-orang yang sedang beristighfar dan munajat.
  2. Mereka berdoa pada Tuhannya dengan linangan air mata penuh harapan dan cemas. Hati mereka terasa hangat tatkala munajat mereka panjatkan di relung-relung malam yang sunyi.
  3. Mereka menyingkap awan dan bintang gemerlapan dengan alunan panjang tasbih dan tahmid kepada Tuhan.
  4. Mereka getarkan pintu-pintu langit melalui munajat cinta yang sentiasa bergelora di titian malam yang indah.
  5. Solat adalah tiang agama dan penyangga rusuk-rusuk dan organ-organ agama yang lain.


Jika tiang utama lemah atau hancur maka :
  1.  Kelumpuhan akan segera berlaku kepada organ-organ yang lain.
  2. Kehidupan agama tidak boleh diharapkan untuk bergerak kembali.
  3. Keletihan jiwa akan merasuk.
  4. Kerapuhan ruhani akan menjadi sebuah wabak penyakit.


KEKUATAN SOLAT

Solat sangat mampu :
  1. Memberi pengaruh pada pembentukan akhlak dan perilaku seseorang.
  2. Menjadi imunisasi paling bagus buat pelakunya untuk menjauhkan diri dari semua sifat keji dan kejahatan.
  3. Menjadi ubat paling mujarab yang menenangkan jiwa para pelakunya.
  4. Mencegah pelakunya untuk tidak terjebak dalam kerakusan dan ketamakan.
  5. Menjaga pelakunya untuk sentiasa bersikap rendah diri dan tawadhu' di hadapan sesiapa sahaja.
  6. Menaikkan harga diri pelakunya di hadapan sesiapapun yang menyombongkan diri di hadapan Allah swt.


Solat adalah :
  1.  Munajat dan doa.
  2. Taubat dan inabah.
  3. Tasbih dan istighfar.
  4. Tahmid dan takbir serta tahlil.


Semua itu terangkum dalam sebuah untaian proses indah bagi mencapai nikmat pertemuan dengan Kekasih.

Solat menjadi pengkalan seorang hamba dalam perjalanan hidupnya untuk bersuka-ria sejenak bersama dengan Tuhannya.

Dalam solatlah mereka merasakan kenikmatan ruhani dan jiwa yang sangat sensasi. Bahkan ada yang mengatakan :

“Andaikata penduduk bumi tahu kenikmatan yang kami rasakan ketika kami solat, pastilah mereka akan memenggal kepala kami dengan pedang-pedang yang tajam.”

Dalam solat, kita :

  1. MenyucikanNya.
  2. Bermunajat dengan firman-firmanNya.
  3. Ruku' dan sujud kepadaNya.
  4. Renungi kembali asal penciptaan kita yang berasal dari tanah dan unsur-unsur alam yang ada.


Dari bahan tersebut, Dia melengkapi kita dengan kemahuan dan kekuatan sehingga kita mampu :

  1. Menyucikan.
  2. Menjunjung.
  3. Menahan tuntutan fizikal dan syahwat.
  4. Meluruskan perasaan.
  5. Menggelorakan kecenderungan bagi menegakkan kesucian.
  6. Berusaha melawan penyimpangan-penyimpangan yang mengarah kepada kekejian dan kejahatan.

Solat merupakan wasilah dalam :

  1. Mendidik jiwa.
  2. Memperbaharui semangat.
  3. Menyucikan akhlak.
  4. Menguatkan pengendalian diri.
  5. Menghibur duka lara.
  6. Menyejukkan jiwa.
  7. Mengamankan dari rasa takut dan cemas.
  8. Menghancurkan kelemahan.
  9. Menjadi senjata yang ampuh bagi mereka yang merasa keterasingan.
  10. Membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk.
  11.  Menyingkirkan dunia dari hati pelakunya dan akan meletakkannya di tapak tangannya.
  12.  Mencari dunia untuk dikendalikan dan bukan dunia yang mengendalikan dirinya.


Solat adalah kebun ibadah yang di dalamnya penuh dengan segala yang menyenangkan dan menggembirakan. Ada takbir, ada ruku', ada berdiri, ada sujud, ada duduk dan tahiyyat yang di dalamnya penuh dengan munajat. Ia adalah cahaya yang ada di dalam hati seorang mukmin dan nur yang akan memberikan penerangan di kala mereka dikumpulkan di padang mahsyar sebagaimana sabda Rasulullah saw :

"Solat itu adalah cahaya." (HR Muslim)


Dengan solat kita meminta pertolongan kepada Allah dengan segala kerendahan jiwa yang di jelmakan melalui ruku' dan sujud, yang terakam dalam semarak doa dan munajat.

SOLAT ADALAH PERISAI

Solat yang benar akan sentiasa mampu menjadi perisai dari maksiat-maksiat yang mungkin akan menenggelamkan ruhani kita dan merobohkan tiang keimanan kita serta mematikan potensi keihsanan kita :

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, iaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah solat. Sesungguhnya solat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingati Allah (solat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Ankabuut : 45)

"Barangsiapa yang menjaga solatnya, maka solat itu menjadi cahaya dan keterangan (bukti) serta penyelamat baginya di hari kiamat." (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani)

Keutamaan dan kepentingan solat telah menjadi sedemikian jelas bagi setiap Muslim.

Meskipun begitu, kita belum juga dapat merasakan makna-makna yang mendalam ini dan kita pun tetap menganggap solat sebagai sesuatu yang berat untuk dilaksanakan.

Kita memang sebenarnya layak merasai hal ini dan alasan tersebutpun boleh diterima kerana
Allah swt telah berfirman :

"Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’." (QS Al Baqarah : 45)

MENGAPA SOLAT TERASA BERAT

Ya, kita sebenarnya belum melaksanakan solat secara khusyu’ sehingga solat pun terasa :
  • Berat.
  • Sukar.
  • Menjadi bebanan.


Solat akan terasa berat jika kekhusyu'an kita berkurang, ia akan terasa seperti bebanan jika kita tidak merindukan pertemuan dengan Yang Maha Pengasih. Sebaliknya solat akan terasa nikmat bagi orang-orang yang khusyu' dan yang menjadikan solat sebagai tangga menuju pertemuan dengan Al Khalik.

Oleh yang demikian, kekhusyu’an menjadi tema utama dalam permasalahan solat. Tanpa kekhusyu’an, kita akan merasakan solat sebagai beban berat yang tidak berpengaruh dan mungkin hanya merupakan gerakan-gerakan mekanikal semata-mata.

Merebaknya kejahatan di tengah-tengah masyarakat kita berupa penyimpangan, kekejian kekotoran-kekotoran ruhani berkemungkinan berlaku kerana solat kita tidak lagi memiliki nilai-nilai ilahiyahnya.

Solat yang kita laksanakan berkemungkinan hanya :

  • Berupa rangka-rangka dan gerakan yang kosong dari kesedaran ruhani.
  • Umpama mayat tanpa ruh dan solat itu telah mati di saat kita melakukannya.


SEBAB DAN AKIBAT SOLAT YANG TIDAK KHUSYU’

Salah satu perkara yang merintangi seseorang menuju kekhusyu’an dalam solat adalah banyaknya pergerakan badan di samping sikap lalai dalam solat.
Kita mungkin pernah melihat ada orang-orang yang melakukan perkara-perkara yang aneh dalam solat.
Berikut adalah beberapa contoh :
  1. Seseorang yang mengerjakan solat dengan sedemikian cepat seolah-olah ianya sebuah senaman aerobik.
  2. Seseorang yang solat di samping televisyen yang terbuka.
  3. Seseorang yang solat namun matanya berputar mengamati kecantikan-kecantikan dalam masjid dan orang-orang yang ada di dalamnya.
  4. Seseorang yang solat dan ketika solat ia sengaja mengangkat suara agar anaknya diam.
  5. Seseorang yang solat dan gerakannya lebih cepat dari patukan ayam jantan di mana ia melakukan sujud namun hujung kepalanya hampir tidak menyentuh lantai.


Ini merupakan contoh-contoh solat yang tidak sepatutnya diteladani dan apakah kita mengira bahwa Allah swt akan mengabulkan solat-solat semacam itu?

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda kepada seorang laki-laki yang mengerjakan solat dengan cepat dan tanpa ‘thuma'ninah’ :

"Pergilah untuk melakukan solat kerana engkau belum mengerjakannya." (HR Bukhari)

Nabi saw pernah ditanya tentang perbuatan menoleh-noleh ketika solat, maka beliau pun bersabda ;

"Itu merupakan curian yang dilakukan syaitan terhadap solat seorang hamba." (HR Bukhari)

“Sungguh, seburuk-buruk manusia adalah orang yang berusaha mencuri bahagian solatnya.

Ditanyakan, "Bagaimanakah perkara itu boleh berlaku, ya Rasulullah?"

Baginda menjawab :

"Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya." (HR Ahmad)

Rasulullah saw bersabda :

"Sesungguhnya Allah akan menyambut seorang hamba dalam solatnya sepanjang ia tidak berpaling. Maka jika hamba itu memalingkan muka, Allah pun berpaling darinya." (HR Abu Dawud dan An Nasai’e).

Demi Allah, tidakkah kita merasa malu?

Apakah Allah swt melihat kita tetapi kita justeru melihat ke arah yang lain?

JADIKAN SOLAT SEBAGAI ISTIREHAT KITA
 
Inilah Rasulullah saw bersama solat.

Perhatikanlah tatkala baginda mengatakan :

"Wahai Bilal, dirikanlah solat (iqamatlah)! Istirehatkanlah kami dengannya." (HR Abu Dawud dan disahihkan oleh Al Albani)    
Bandingkan dengan keadaan kita ketika ini dan boleh jadi sebahagian manusia justeru akan mengatakan :

"Istirehatkanlah kami dari solat, wahai Bilal."
   
Demi Allah, orang yang mampu mengecapi rasa ini hanyalah orang-orang yang khusyu’ dan adapun orang-orang yang selain mereka justeru akan merasa letih.

Perhatikan bagaimana Rasulullah saw mengatakan :

"Dan puncak kebahagiaanku dijadikan terletak dalam solat." (HR Ahmad)
   
Solat adalah kebahagiaan baginda dan keinginannya. Pandangan baginda tidak akan dipenuhi apa-apa selain solat sementara pandangan kita telah terjejas oleh banyak perkara seperti :

  • Isteri.
  • Rumah tangga.
  • Pekerjaan.
  • Harta benda.
  • Televisyen.


Pernahkah walaupun sekali kita merasakan puncak kebahagiaan kita terletak pada dua rakaat yang kita kerjakan di tengah malam yang gelap di mana kita menegakkan kaki di hadapan Allah swt dengan penuh khusyuk dan hiba?
   
Para sahabat mengatakan :

"Apabila Rasulullah saw ditimpa suatu persoalan atau mengharapkan sesuatu perkara, beliau bergegas melaksanakan solat." (HR Ahmad)
   
Itulah, sungguh aneh keadaan kita!
Jika kita ditimpa persoalan, kita segera berlari mencari yang lain dan bukannya solat!

ANTARA MABUK DAN LALAI DALAM SOLAT

Allah swt berfirman :

”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu solat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan." (QS An-Nisa' : 43)
Subhanallah! Ada ramai orang yang tidak dalam keadaan mabuk namun keadaan mereka ketika solat tidak berbeza dengan orang-orang yang mabuk. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapkan ketika solat.

Tanyakan pada diri kita masing-masing, berapakah solat yang kita lakukan dalam keadaan yang lebih buruk dari orang-orang yang tengah mabuk?

Sukakah kita menjadi orang yang lalai, sementara kita berdiri di hadapan Allah?

CONTOH TAULADAN DARI SALAF
 
Abu Thalhah pernah solat di kebunnya. Kemudian di tengah-tengah solat beliau melihat seekor burung terbang keluar dari kebun. Kedua mata beliau pun terpaku melihat burung itu sehingga beliau lupa berapa rakaat yang telah beliau kerjakan. Akhirnya, kerana kelalaian itu, beliau pergi menghadap Rasulullah saw sambil menangis dan berkata :

"Wahai Rasulullah, saya telah disibukkan oleh seekor  burung ketika solat di kebun sehingga saya lupa berapa rakaatkah yang telah saya lakukan ketika solat..."

Baginda pun berkata :

"Sekarang, biarlah kebun itu menjadi sedekah di jalan Allah. Gunakanlah kebun itu untuk apa sahaja seperti yang kamu inginkan, barangkali dengan ini, Allah akan mengampuni kamu."
   
Sungguh, seorang mukmin sejati akan melihat dosanya seperti sebuah gunung yang besar yang ingin menimpanya.

Sepatutnya kita menangis sekuat-kuatnya di atas keadaan kita selama ini. Ratusan hari, bahkan bertahun-tahun, kita solat dalam keadaan lalai, namun kita sentiasa menghiburkan diri kita dengan berkata, "Rasulullah saw pun pernah lupa jumlah rakaat solatnya."



Perhatikan pula keadaan Ali bin Abi Thalib ra ketika hendak melaksanakan solat. Selepas berwudhu’, beliau biasanya gementar dan ketika ditanya sebabnya, beliau mengatakan :

"Sekarang aku sedang memikul amanah yang pernah ditawarkan kepada langit dan bumi serta gunung, tapi mereka semua menolaknya. Namun aku kemudian maju dan bersedia menerima amanah tersebut."

CARILAH HATI KITA

Imam Al Ghazali rahimahullah berkata :

"Carilah hatimu di tiga tempat :

PERTAMA, ketika membaca Al Qur'an.

KEDUA, ketika solat.

KETIGA, ketika mengingati kematian.

Jika di tiga tempat tersebut engkau belum menemui hatimu, maka mohonlah kepada Allah untuk memberimu hati, kerana engkau sedang dalam keadaan tidak memilikinya.”

Memang sesuatu yang ironik jika peringatan secara rutin peristiwa Isra' Mi'raj pada setiap tahun tidak melahirkan solat khusyu' yang mampu menggetarkan hati nurani dan menembus hingga ke langit. Solat yang kosong dari kekhusyu'an dan tiada kerendahan hati akan melahirkan kekosongan-kekosongan baru yang tiada henti.

Maka, sudah sampai masanya kita jadikan solat sebagai sumber cahaya yang akan menerangi perjalanan kita menuju Allah Yang Maha Kuasa.

Dengan solat, jiwa kita akan menjadi tenang, sejuk dan segar kerana dalam solat, aliran ketenangan dari langit terus mengalir tanpa henti.

Ya Allah, jadikanlah solat kami sebagai tempat hati kami berehat dan menikmati hubungan yang terus dan intim denganMu sehingga tiada lagi ketenangan, tiada lagi kerehatan, tiada lagi kenikmatan melainkan apabila kami telah memasuki wilayah solat yang akan membawa kami menyusuri satu ruangan yang luas tidak bertepi sambil mengetuk pintu-pintu rahmat dan keampunanMu.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS


Monday, December 12, 2011

Perkongsian: Mukhayyam Khoriji 01 2011 (Akhawat)

Assalamualaikum..

sekadar perkongsian MUKHAYYAM KHORIJI 2011 yang bertemakan ‘Pemuda Kahfi’  brtempat di Surau Ansar dan NUR LAMAN BESTRARI ULU YAM pada 26-28  NOVEMBER 2011 iaitu hari sabtu,ahad dan isnin..

Kami para peserta mempunyai kesulitan pada mulanya untuk menyertai MK kerana pada masa itu juga program kursus kahwin berlangsung dimana kami berperanan sebagai exco, namun Allah Maha Besar dan Maha Kuasa , dengan izin-Nya,kami dipermudahkan urusan dan bertolak dari HUKM ke surau ansar dengan kereta kak Nadia..jzz kak nadia..sepotong ayat

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diminta kepada kamu memberi lapang dari tempat duduk kamu (untuk orang lain), maka lapangkanlah seboleh-bolehnya, supaya Allah melapangkan (serba-serbinya) untuk kamu. Dan apabila diminta kamu bangun maka bangunlah, supaya Allah meninggikan darjat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan ugama (dari kalangan kamu) - beberapa darjat. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang kamu lakukan (Al-Mujaadalah: 11)


Di surau Ansar,aktivii ice breaking,taaruf dan pesembahan dijalankan.
Antara peraturan di kem ini ialah
  1. smua dikehendaki makan dalam dulang yang disediakan utk mengeratkan silaraturahim. bagi ana,ini kali pertama makan menggunakan dulang, agak kekok tetapi sgt mengeratkan silaturahim.sempat bertaaruf antara satu sama lain.
  2. smua dikehendaki solat brjemaah.
  3. menjaga kebersihan.

Mereka sgt baik dan sgt ‘welcoming’ jd tak mnjdikan kami kekok. setiap kumpulan diberi tugas untuk mencipta logo,nama,prsembahan dan juga yell..brtemakan ‘PEMUDA KAHFI’ , mmbuatkan kami teruja utk menjalani slot2 seterusnya.

Slot 1: ceramah brtajuk Jahiliyah Moden- Slot ini memberi gambaran masyarakat islam pada masa kini dan cabaran - cabaran yang dihadapi. apa perbezaan dgn jahiliyah dulu????jahiliyah dulu tidak ada kitab dan nabi(sebelum kedatangan nabi).krn itu mereka membuat kerosakan.pada zaman moden kini,sudah ada kitab al quran sebagai petunjuk lengkap tp knp masih melakukan kerosakan di muka bumi ini??

Slot 2:ceramah brtajuk knp mesti tarbiyah?(kepentingan tarbiyah) yg dsmpaikan oleh kak Anfaal. Penympaian yg ringkas tetapi berkesn ini menyentuh tentang ciri-ciri umat skrg:
  1. jahil
  2. lemah
  3. hina
  4. brpecah
  5. tentang isu pakaian,kak anfaal menyatakn satu hadis yg ana sgt setuju: 'pakaian taqwa lebih baik’


Slot 3: Ceramah dari kak izzah brtajuk: ‘Pemuda Mulakan Langkahmu’. 
Dlm slot ni,kak izzah suruh senaraikan 3 benda yg trlintas di fikiran kami brkenaan dgn pemuda. dikaitkan dgn pemuda2 yg sgt hebat dan tdk asing lg nama mereka.sbgai contoh Muhammad al fateh yg brjaya menakluk Konstantinopel pd usia 20-an.Asma’ abu bakar yg sgt cerdik dan dermawan mencatatkn kisahnya yg trsendiri.

Slot 4: slot ini brtajuk Teladan Pemuda. antara isinya ialah :
  1. ‘setiap amal memerlukan pengorabanan’
  2. ‘hikmah pada org tua,semngat pd org muda’
  3. ‘Islam tak memerlukan kita sekiranya kita tak bersedia utk brkorban utk Islam.Allah bleh mnggantikan kita dgn org lain yg lbih menghargai hidayah yg diberikan kpdnya degan sekelip mata shj’

4  kelebihan pemuda brbanding dgn org lebih berusia ialah:
  1. spiritual-lebih iman,taqwa,ikhlas
  2. kekuatan intelektual-ingatan lebih kuat,kreatif dan inovatif
  3. emosional-lebih brsemangt dan brkobar-kobar
  4. fisik(fizikal)-lebih kuat dan brtenaga

Jungle Trekking yg ditunggu oleh semua peserta pd mulanya berjalan dgn lancar sekali. penerangan diberikan oleh pegawai hutan. kami dibekalkan satu tin sardin,2 biji telur,I bungkus roti dan juga bekas utk memasak…bukitnya sgt curam, tetapi nikmat ciptaan flora dan fauna di hutan reakreasi tu sungguh indah, memberi kami semangat untuk teruskan tracking sehingga ke pitstop yg pertama.sebaik sahaja sampai di pit stop prtama,kami mula mncari ranting2 kering utk hidup api ,agak mncbr krn keadaan yg lembab krn baru selepas hujan, dgn mggunakan mancirserta plbgai stategi digunakan untuk mnyalakan api dan ‘maintain’kan api..setelah brjaya menghasilkan api,kami segera masak sardin. rupa2nya kadar masaknya sardine adalah trletak pada kebesaran api dan pertolongan Allah.betul2 baru sahaja habis masak,hujan turun dgn lebat.maka ekspedisi jungle tracking dibatalkan dan kami brpatah balik dlm keadaan meredah hujan lebat itu.first time dlm hidup redah hutan dlm hujan sgt menguji kesabaran serta memberi byk hikmah disebaliknya…Subhanaallah,ramai sahaja yg hampir trgelincir, dan ada juga yg tergelincir tapi Alhamdulillah smua selamat smpai ke bwh.

Slot 5: bertajuk ‘Intelektual Pemuda Islam’.sepotong hadis yg kerap kita dgr, ‘org yg paling mulia dan bijaksana ialah org yg paling bnyk mengingati mati dan gigih dlm prsiapan menghadapi kematian’
slot ini menekankan tentang kepentingan ilmu, dimana dgn ilmu ia akn m’hasilkan ketaqwaan pd Allah serta menbawa ke syurga serta menjauhkan dari api neraka.

Di akhir program, fasi membuat satu formula yg sgt brguna kepada semua org:
dan pentingnya tarbiyah ruhhiyyah…..
T:Tarbiyah
U:Ubah
A:Amal
A:Ajak
I:Ilmu
I:Istiqamah